Marco Rubio Tuding Hezbollah sebagai Penghambat Kesepakatan Israel-Lebanon

Rabu, 6 Mei 2026 - 09:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Strategi penyeimbangan Washington. Menteri Luar Negeri Marco Rubio segera bertolak ke Swedia untuk menekan anggota NATO soal anggaran pertahanan, sebelum melanjutkan perjalanan ke India guna mencairkan hubungan dagang yang sempat membeku. Dok: Istimewa.

Strategi penyeimbangan Washington. Menteri Luar Negeri Marco Rubio segera bertolak ke Swedia untuk menekan anggota NATO soal anggaran pertahanan, sebelum melanjutkan perjalanan ke India guna mencairkan hubungan dagang yang sempat membeku. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Amerika Serikat melihat peluang besar untuk mengakhiri siklus kekerasan di perbatasan Lebanon-Israel. Sekretaris Negara Marco Rubio menegaskan bahwa kesepakatan damai antara kedua negara tersebut saat ini berada dalam jangkauan yang sangat dekat.

Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Rubio memberikan penilaian tajam mengenai dinamika konflik tersebut. “Secara keseluruhan, saya pikir kesepakatan damai antara Lebanon dan Israel dapat segera tercapai, dan memang seharusnya demikian,” ujar Rubio pada hari Selasa.

Hezbollah sebagai Akar Masalah

Rubio secara eksplisit membedakan antara negara Lebanon dengan kelompok militan yang beroperasi di wilayahnya. Menurutnya, konflik ini bukan disebabkan oleh ketidakmampuan diplomasi antara kedua negara berdaulat tersebut.

“Masalah antara Israel dan Lebanon bukanlah Israel atau Lebanon, melainkan Hezbollah,” tegas Rubio. Oleh karena itu, ia menekankan kebutuhan mendesak akan pemerintahan Lebanon yang memiliki kapasitas militer dan politik untuk menindak serta membubarkan infrastruktur kekuatan Hezbollah. Visi ini menjadi poin krusial dalam arsitektur keamanan yang Washington usulkan guna menstabilkan Timur Tengah di tahun 2026.

Kontradiksi Tuntutan: Pelucutan Senjata vs Kedaulatan

Hingga saat ini, pemerintah Lebanon terus memperjuangkan kesepakatan permanen guna menghentikan siklus invasi dan serangan udara Israel yang berulang. Namun, Beirut tetap berhati-hati dengan tidak menggunakan terminologi “perjanjian damai” secara formal.

Baca Juga :  Kyiv Membeku: Rusia Gempur dengan Rudal Kinzhal

Di sisi lain, Israel memegang posisi tawar yang keras. Yerusalem mewajibkan pelucutan senjata secara permanen terhadap Hezbollah—kelompok yang mendapatkan dukungan penuh dari Iran—sebagai syarat mutlak dalam setiap perjanjian. Perbedaan mendasar dalam definisi stabilitas ini membuat meja perundingan tetap tegang meskipun terdapat tekanan diplomatik dari Amerika Serikat.

Realitas Kemanusiaan dan Gencatan Senjata Rapuh

Krisis militer ini meletus setelah Hezbollah meluncurkan rudal ke arah Israel pada 3 Maret lalu, yang memicu serangan balasan udara dan invasi darat besar-besaran oleh militer Israel. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 2.600 orang dan menyebabkan satu juta warga kehilangan tempat tinggal.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meskipun kedua pihak menyepakati gencatan senjata pada pertengahan April dan memperpanjangnya hingga Mei, situasi di lapangan tetap mencekam. Militer Israel masih menduduki sebagian wilayah Lebanon Selatan dan melakukan pembongkaran desa-desa yang mereka anggap sebagai sarang milisi. Sebaliknya, Hezbollah juga tetap melancarkan serangan terhadap posisi pasukan Israel yang mereka pandang sebagai penjajah.

Baca Juga :  Trump Rebut Kendali Venezuela Lewat Operasi Militer Kilat

Perdebatan Keterkaitan Konflik Regional

Isu kedaulatan Lebanon kini terikat dengan perang yang lebih luas di Iran. Teheran bersikeras bahwa setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang Iran harus mencakup penghentian total serangan Israel di Lebanon.

Meskipun demikian, Washington mengambil sikap yang berbeda. Pemerintahan Presiden Donald Trump tetap memandang masalah di Lebanon sebagai isu yang terpisah dari konflik nuklir dan militer dengan Iran. Pemisahan isu ini bertujuan untuk mengisolasi Hezbollah dari dukungan strategis Iran guna mempercepat penyelesaian di perbatasan utara Israel.

Menanti Ketegasan Beirut

Masyarakat internasional kini menanti apakah pemerintah Lebanon mampu memenuhi ekspektasi Washington untuk mengambil kendali penuh atas kedaulatan wilayahnya. Singkatnya, masa depan ribuan pengungsi di perbatasan sangat bergantung pada apakah kekuatan politik di Beirut berani melangkah untuk membatasi ruang gerak Hezbollah.

Di tengah gejolak tahun 2026 yang penuh ketidakpastian energi dan keamanan, ucapan Marco Rubio memberikan sinyal kuat bahwa Amerika Serikat akan terus menekan faksi-faksi di Lebanon. Tanpa adanya tindakan nyata terhadap kelompok milisi, perdamaian yang Rubio sebut “mudah tercapai” tersebut mungkin hanya akan tetap menjadi retorika diplomatik di atas kertas.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi Bongkar Gudang Bawang Ilegal, Perputaran Uang Tembus Rp24,96 Miliar
Dugaan Cabul Pelatih Sepatu Roda di Tangsel Terungkap dari Chat Korban
AS Dakwa Mantan Presiden Kuba Raul Castro Atas Penembakan Pesawat Sipil
Trump Luncurkan Dana Kompensasi $1,7 Miliar: Pendukung Beraksi
Gencatan Senjata di Ujung Tanduk: Trump Ancam Serangan
Pengadilan Australia Denda X Corp: Kegagalan Transparansi
Kejagung Musnahkan Jam Rolex KW Sitaan Koruptor Asabri Jimmy Sutopo
Densus 88 Soroti Ancaman Digital terhadap Anak, Literasi dan Deteksi Dini Diperkuat

Berita Terkait

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:23 WIB

Polisi Bongkar Gudang Bawang Ilegal, Perputaran Uang Tembus Rp24,96 Miliar

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:06 WIB

Dugaan Cabul Pelatih Sepatu Roda di Tangsel Terungkap dari Chat Korban

Kamis, 21 Mei 2026 - 14:53 WIB

AS Dakwa Mantan Presiden Kuba Raul Castro Atas Penembakan Pesawat Sipil

Kamis, 21 Mei 2026 - 13:47 WIB

Trump Luncurkan Dana Kompensasi $1,7 Miliar: Pendukung Beraksi

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:43 WIB

Gencatan Senjata di Ujung Tanduk: Trump Ancam Serangan

Berita Terbaru

Kompensasi bagi

INTERNASIONAL

Trump Luncurkan Dana Kompensasi $1,7 Miliar: Pendukung Beraksi

Kamis, 21 Mei 2026 - 13:47 WIB

Diplomasi penuh ancaman. Presiden Donald Trump mengeklaim negosiasi damai dengan Iran berada di tahap akhir, namun tetap memberikan ultimatum serangan militer. Kebuntuan ini terus memicu volatilitas harga minyak global. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Gencatan Senjata di Ujung Tanduk: Trump Ancam Serangan

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:43 WIB