MELBOURNE, POSNEWS.CO.ID – Sebuah pesawat komersial yang membawa kelompok perempuan dan anak-anak terafiliasi ISIS mendarat di Melbourne pada Selasa. Mereka tetap memutuskan pulang meskipun pemerintah federal telah memperingatkan adanya ancaman penuntutan hukum.
Satu kelompok lain kini sedang dalam perjalanan menuju Sydney menggunakan maskapai Qatar Airways. Kepulangan mandiri ini terjadi kurang dari tiga minggu setelah kepulangan kelompok serupa yang berisi 13 orang.
Ancaman Hukum dari Pemerintah Federal
Menteri Dalam Negeri Tony Burke memberikan pernyataan keras mengenai kepulangan kelompok tersebut. Ia memastikan penegak hukum akan menyeret siapa pun yang melakukan kejahatan ke pengadilan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pemerintah tidak akan memberikan bantuan apa pun kepada kelompok ini,” tegas Burke dalam pernyataan resminya. Ia menyebut mereka telah membuat keputusan mengerikan untuk bergabung dengan organisasi teroris berbahaya. Meski demikian, Burke memastikan bahwa badan intelijen dan penegak hukum telah memantau pergerakan mereka sejak tahun 2014.
Kasus Hukum pada Kepulangan Sebelumnya
Aparat keamanan bertindak cepat terhadap kepulangan simpatisan ISIS dari Suriah. Pada kelompok terbang sebelumnya, polisi langsung menahan tiga dari empat wanita dewasa yang tiba di Australia.
Pengadilan mendakwa Kawsar Ahmed dan putrinya, Zeinab Ahmed, atas tuduhan perbudakan terhadap wanita etnis Yazidi. Di tempat terpisah, polisi menangkap Janai Safar saat mendarat di Bandara Sydney. Jaksa mendakwa Safar karena memasuki wilayah kekuasaan organisasi teroris serta menjadi anggota aktif kelompok tersebut.
Nasib Warga yang Tersisa di Kamp Roj
Saat ini, setidaknya masih ada dua warga Australia yang tertinggal di Kamp Roj, Suriah Utara. Kamp tersebut menampung sisa-sisa keluarga simpatisan ISIS sejak kekalahan militer mereka pada tahun 2019.
Seorang ibu berusia 29 tahun gagal pulang karena terganjal perintah eksklusi sementara dari pemerintah Australia. Perintah hukum tersebut melarang sang ibu memasuki Australia hingga Februari 2028. Pihak keluarga kini menyewa pengacara di Sydney untuk menggugat aturan eksklusi tersebut demi menyelamatkan anaknya yang mengalami disabilitas akibat luka pecahan peluru.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












