UU Intelijen AS Seksi 702 Terancam Mati Akibat Kontroversi

Selasa, 9 Juni 2026 - 12:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Terobosan besar diplomasi dunia. Presiden Donald Trump mengumumkan pencapaian kesepakatan damai dengan Iran guna membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan energi global. Dok: Istimewa.

Terobosan besar diplomasi dunia. Presiden Donald Trump mengumumkan pencapaian kesepakatan damai dengan Iran guna membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan energi global. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Para senator dari Partai Republik memberikan peringatan keras kepada Gedung Putih mengenai potensi matinya wewenang pengawasan penting pekan ini. Sebab, ketegangan politik kian memuncak akibat penunjukan kontroversial pilihan Presiden Donald Trump untuk memimpin komunitas intelijen nasional.

Ketua Komite Intelijen Senat Tom Cotton bersama Ketua Komite Yudisial Senat Chuck Grassley langsung membunyikan alarm bahaya tersebut. Oleh karena itu, mereka mengirimkan surat khusus kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio pada akhir pekan kemarin. Melalui surat tersebut, mereka meminta Rubio bersiap menghadapi celah kosong dalam pengumpulan informasi intelijen asing yang kritis.

Ancaman Celah Kosong Intelijen Asing

Ketentuan hukum dalam Seksi 702 Undang-Undang Pengawasan Intelijen Asing (FISA) akan kedaluwarsa pada tanggal 12 Juni ini. Padahal, aturan ini memberikan wewenang hukum bagi CIA, NSA, dan FBI untuk menyadap komunikasi target asing tanpa surat perintah.

“Kita menghadapi tenggat waktu yang sangat ketat dan kami membutuhkan dukungan suara Demokrat,” tegas Pemimpin Mayoritas Senat John Thune pada hari Senin.

Upaya perpanjangan undang-undang ini sebenarnya telah menghadapi banyak hambatan sejak awal pembahasan. Sebab, beberapa politisi khawatir aturan tersebut dapat menyadap komunikasi warga Amerika Serikat secara tidak sengaja. Oleh sebab itu, kelompok pembela privasi mendesak adanya kewajiban izin pengadilan sebelum aparat melakukan pencarian data.

Kontroversi Penunjukan Bill Pulte

Kesepakatan bipartisan mengenai perpanjangan jangka panjang sebenarnya sudah hampir rampung di tingkat senat. Namun, rencana tersebut langsung berantakan setelah Trump memilih regulator keuangan perumahan federal Bill Pulte sebagai penjabat direktur intelijen.

“Keputusan presiden melemparkan granat tangan ini sangat membingungkan,” kritik Senator Demokrat Mark Warner dalam program televisi ABC.

Sebanyak tujuh senator Republik bergabung dengan kubu Demokrat untuk memblokir perpanjangan undang-undang tersebut pada Jumat pagi. Sebab, mereka menilai Pulte tidak memiliki pengalaman militer atau keamanan nasional untuk memimpin 18 lembaga intelijen negara.

Baca Juga :  Laporan Lowy Institute Ungkap Skenario Perang Digital

Di sisi lain, para senator juga menyoroti rekam jejak buruk Pulte saat memimpin Badan Keuangan Perumahan Federal. Sebab, ia terlibat dalam penyelidikan dugaan penipuan hipotek untuk menghukum lawan-lawan politik Donald Trump.

Tuntutan Penarikan dan Langkah Darurat

Kubu Demokrat menegaskan tidak akan memberikan dukungan suara sebelum Donald Trump menarik penunjukan Pulte secara permanen. Pemimpin Demokrat DPR Hakeem Jeffries mendesak pembatalan segera atas pengangkatan sementara tersebut demi kelancaran negosiasi damai.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan pentingnya Seksi 702 sebagai alat pertahanan paling efektif bagi keamanan negara. Dengan demikian, kegagalan memperpanjang undang-undang ini akan menciptakan situasi yang sangat berbahaya bagi Amerika Serikat.

“Jika undang-undang ini mati, maka negara ini akan menghadapi situasi bencana yang sangat mengerikan,” tegas Ketua DPR Mike Johnson.

Penulis : Alifa Latifa

Editor : Alifa Latifa

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride
Pelaku Lepaskan Tembakan ke Gedung Konsulat AS
Gelombang Fitur AI Interaktif Ubah Pengalaman Membaca
Langkah Diplomasi Presiden Sharaa: Suriah Upayakan Perjanjian
Hujan Rudal Balistik dan Drone Rusia Gempur Kyiv
Militer Myanmar Tingkatkan Serangan Udara dan Pembantaian
Bassirou Diomaye Faye Meluncurkan Partai Baru Kiiraay
Brasil Tolak Visa Pejabat AS yang Ingin Awasi Pemilu

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 09:31 WIB

Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride

Selasa, 28 Juli 2026 - 09:30 WIB

Pelaku Lepaskan Tembakan ke Gedung Konsulat AS

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:30 WIB

Gelombang Fitur AI Interaktif Ubah Pengalaman Membaca

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:24 WIB

Langkah Diplomasi Presiden Sharaa: Suriah Upayakan Perjanjian

Selasa, 28 Juli 2026 - 07:20 WIB

Hujan Rudal Balistik dan Drone Rusia Gempur Kyiv

Berita Terbaru

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Anang Supriatna. (Posnews/Humas Kejagung)

NASIONAL

Kasus TPPU Febrie Adriansyah, Kejagung Periksa Tujuh Saksi

Selasa, 28 Jul 2026 - 18:27 WIB