Gentrifikasi Digital: Digital Nomad di Negara Berkembang

Sabtu, 15 November 2025 - 16:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Digital nomad membawa dolar, tapi juga 'gentrifikasi digital'. Di Canggu, Bali, warga lokal mulai tergeser oleh harga sewa yang meroket karena kalah bersaing. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Digital nomad membawa dolar, tapi juga 'gentrifikasi digital'. Di Canggu, Bali, warga lokal mulai tergeser oleh harga sewa yang meroket karena kalah bersaing. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pandemi COVID-19 secara tidak sengaja melahirkan sebuah gaya hidup baru yang kini menjadi fenomena global: “Digital Nomad”. Secara definisi, mereka adalah pekerja profesional (seperti programmer, desainer, atau marketer) yang bekerja sepenuhnya dari jarak jauh (remote).

Namun, berbeda dengan pekerja remote biasa, mereka menggunakan kebebasan itu untuk meninggalkan negara asal mereka yang mahal (seperti AS, Inggris, atau Australia). Sebaliknya, mereka memilih bekerja dari laptop mereka di lokasi-lokasi “eksotis” dengan biaya hidup rendah, terutama di negara berkembang.

Meskipun terlihat seperti skenario impian, kedatangan massal mereka kini menciptakan masalah sosial yang pelik bagi penduduk lokal: Gentrifikasi Digital.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Canggu dan Lisbon

Ambil contoh area seperti Canggu di Bali, atau Lisbon di Portugal. Dahulu, Canggu adalah desa nelayan dan area persawahan yang tenang. Kini, area itu telah bertransformasi menjadi “Silicon Bali”.

Akibatnya, kafe-kafe aesthetic penuh dengan pekerja asing yang menatap laptop selama berjam-jam. Ruang co-working dan vila-vila mewah menjamur menggantikan sawah dan pemukiman warga. Fenomena serupa juga terjadi di Lisbon, di mana pemerintah awalnya mengundang nomad dengan visa khusus.

Baca Juga :  Viral! Ustadz Dihakimi Massa di Karawang, Kepergok Selingkuh dengan Istri Orang

Devisa dan Pertukaran Budaya

Tentu saja, secara permukaan, kedatangan mereka membawa beberapa dampak positif yang tidak bisa kita abaikan.

Pertama, mereka membelanjakan mata uang kuat (Dolar, Euro) di ekonomi lokal. Hal ini meningkatkan pemasukan devisa dan memberi pekerjaan di sektor jasa (kafe, vila). Kedua, secara teori, terjadi pertukaran budaya dan keterampilan, walaupun dalam praktiknya interaksi ini seringkali terbatas di dalam “gelembung” ekspatriat.

Gentrifikasi yang Menggusur

Akan tetapi, dampak negatif jangka panjangnya seringkali jauh lebih besar daripada manfaatnya. Inilah yang disebut Gentrifikasi Digital:

  1. Melonjaknya Harga Sewa: Ini adalah dampak paling instan. Digital nomad memiliki daya beli (gaji Dolar) yang jauh lebih tinggi daripada penduduk lokal (gaji Rupiah/Euro). Akibatnya, pemilik properti lebih memilih menyewakan kamar atau rumah mereka melalui Airbnb dengan harga turis yang tinggi. Harga sewa pun meroket di luar jangkauan warga lokal.
  2. Tergesernya Penduduk Lokal: Karena tidak mampu membayar sewa yang terus naik, penduduk lokal (seperti guru, perawat, pedagang pasar, atau seniman) secara perlahan tergeser keluar dari lingkungan tempat mereka tumbuh. Mereka terpaksa pindah ke pinggiran kota yang lebih jauh dan lebih murah.
  3. Perubahan Karakter Lingkungan: Selain itu, lingkungan kehilangan karakter aslinya. Warung makan tradisional bangkrut karena digantikan oleh restoran smoothie bowl, bar rooftop, atau studio yoga yang mahal. Bisnis-bisnis baru ini hanya melayani selera dan kantong para pendatang asing.
  4. Kesenjangan Sosial yang Tajam: Pada akhirnya, ini menciptakan “dua dunia” dalam satu kota. Ada gelembung (bubble) digital nomad yang eksklusif dan fasilitas premium, dan ada penduduk lokal yang merasa terasing dan hanya menjadi pelayan di tanah mereka sendiri.
Baca Juga :  Mengurus Amdal dan IPLC Agar Pabrik Tidak Disegel

Etika Sang Pengembara Digital

Fenomena digital nomad mengungkap sebuah ironi: mereka seringkali mencari kebebasan, koneksi, dan gaya hidup “otentik” yang hilang di negara asal mereka. Namun, kedatangan massal mereka justru secara kolektif menghancurkan keotentikan dan komunitas yang mereka cari itu.

Maka, ini menjadi pertanyaan etika dan tanggung jawab sosial. Digital nomad harus sadar bahwa mereka bukan sekadar turis yang berlibur seminggu. Mereka adalah “penduduk sementara” yang memberikan dampak ekonomi nyata dan permanen pada pasar perumahan dan sosial.

Ke depan, perlu ada kebijakan yang lebih cerdas dari pemerintah lokal (seperti pajak digital nomad yang dialokasikan untuk perumahan terjangkau, atau regulasi ketat untuk Airbnb). Selain itu, dibutuhkan kesadaran dari individu nomad untuk berkontribusi kembali kepada komunitas, bukan hanya mengeksploitasi biaya hidup yang murah.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang
Bos Nvidia Jensen Huang Desak Masyarakat Cepat Adaptasi

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Juni 2026 - 10:01 WIB

Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America

Berita Terbaru

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB

Penderitaan di bawah kuasa geng. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengunjungi Haiti guna menyaksikan langsung krisis kemanusiaan dan pengungsian massal akibat dominasi geng Viv Ansanm. Dok: (AP Photo/Danica Coto)

INTERNASIONAL

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Jun 2026 - 14:48 WIB

Ketegangan di perairan internasional. Sebuah kapal fregat militer Rusia melepaskan tembakan peringatan ke arah kapal pesiar berbendera Inggris di Selat Inggris. Dok: (AP Photo, File)

INTERNASIONAL

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Jun 2026 - 13:31 WIB

Hubungan sekutu yang retak. Presiden Donald Trump mengecam keras Benjamin Netanyahu karena rencana pengeboman Beirut mengancam kelangsungan rencana damai dengan Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Jun 2026 - 12:21 WIB