KYIV, POSNEWS.CO.ID β Pemerintah Rusia menyatakan rencana untuk meluncurkan serangan sistematis terhadap target militer di Kyiv. Selain itu, Moskow menargetkan pusat pengambilan keputusan utama Ukraina. Pemerintah Rusia juga mendesak orang asing untuk meninggalkan kota secepat mungkin.
Langkah ini muncul sehari setelah Rusia melancarkan salah satu serangan paling mematikan tahun ini. Oleh karena itu, ketegangan di ibu kota Ukraina mencapai titik yang sangat krusial.
Ukraina Tolak “Pemerasan” Rusia
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menanggapi ancaman tersebut dengan tegas. Ia mendesak seluruh sekutu Kyiv untuk tidak menyerah pada “pemerasan Rusia.” Kepala misi Uni Eropa di Kyiv juga memberikan pernyataan serupa. Ia menegaskan bahwa blok tersebut tidak akan pergi ke mana pun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Rusia menginginkan ketakutan, kepanikan, dan isolasi bagi Ukraina,” ujar Katarina Mathernova, kepala misi Uni Eropa, melalui media sosial. Selanjutnya, ia menegaskan kembali bahwa Uni Eropa tetap berada di Kyiv dan terus mendukung Ukraina dalam menghadapi ancaman ini.
Penggunaan Rudal Hipersonik Oreshnik
Dalam eskalasi terbaru, Rusia menembakkan rudal hipersonik Oreshnik di dekat Kyiv. Militer Rusia tercatat telah menggunakan senjata berkemampuan nuklir ini sebanyak tiga kali selama empat tahun perang berlangsung.
Selain itu, Presiden Volodymyr Zelenskyy melaporkan bahwa serangan akhir pekan lalu merusak sekitar 300 fasilitas di seluruh Kyiv. Salah satu bangunan yang terdampak adalah museum baru yang memperingati bencana nuklir Chornobyl 1986. “Tidak ada satu ruangan pun yang tersisa di Museum Nasional Chornobyl tanpa kerusakan,” ungkap Vitalina Martynovska selaku direktur museum.
Serangan Udara di Berbagai Wilayah
Ukraina terus mengalami gempuran di berbagai wilayah. Serangan rudal dan drone Rusia menewaskan sedikitnya dua orang di Merefa, dekat Kharkiv. Tidak hanya itu, serangan serupa menewaskan dua orang di desa Vilnyansk, wilayah Zaporizhzhia, dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Sebaliknya, Ukraina juga membalas dengan melancarkan serangan drone ke wilayah Rusia. Pemerintah Rusia melaporkan satu warga sipil tewas di wilayah perbatasan Belgorod. Drone Ukraina juga menghantam gedung bertingkat di kawasan elit Moskow, meskipun tidak ada laporan mengenai korban jiwa di ibu kota Rusia tersebut.
Menanti Respons Internasional
Upaya perdamaian yang dimediasi oleh Amerika Serikat saat ini menemui jalan buntu. Perang telah menjadi konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II. Moskow tetap menuntut penarikan mundur Ukraina dari empat wilayah timur sebagai syarat negosiasi.
Singkatnya, tuntutan Rusia ini tetap mustahil bagi Kyiv. Dengan demikian, masyarakat internasional terus mengamati perkembangan di Kyiv. Ketegangan ini membuktikan bahwa diplomasi internasional masih menghadapi hambatan besar dalam menghentikan spiral kekerasan di tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












